Dienstag, September 25, 2012

Cerai

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Itu dulu. Pada kenyataannya sekarang, terkadang perceraian diperlukan untuk semakin meneguhkan ikatan. Atau untuk menghalangi keruntuhan yang lebih besar. Atau untuk kebaikan seluruh pihak. Namun yang manapun skenario yang dipilih, bercerai dengan sesuatu atau seseorang yang kita cintai tentulah sangat tidak mengenakkan.

Dan seperti halnya obat, pil pahit kehidupan ini terkadang harus kita telan dengan penuh keyakinan agar penyakit yang kita derita menjadi sembuh atau setidaknya berkurang.

***
Perceraian adalah salah satu bidang yang halal namun kurang disukai oleh Allah. Perceraian menafikan cinta meski kadang perceraian itu sendiri diambil untuk mempertahankan cinta. Dan betapapun besarnya cinta yang kita miliki, perceraian adalah sebuah keniscayaan, hanya masalah waktu saja. "Inna lillahi" akan selalu kita dengar setiap hari, sebagaimana nyaris setiap hari kita kehilangan sesuatu, minimal usia dan waktu hidup kita di dunia ini.

Setiap hari kita bercerai dengan waktu. Atau kemarin. Atau impian kita. Sahabat kita. Keluarga kita. Atau ketika berbuat dosa, pada hakikatnya kita sedang menceraikan diri kita sendiri dengan Tuhan kita.

Dengan sudut pandang seperti ini, saya melewati perceraian demi perceraian secara relatif lebih mudah. Bukan berarti saya hobi menikah, karena istri saya hanya satu saja, boleh periksa sendiri kalau tidak percaya, heheheh.

Let me give you a real living example. Saya punya seorang sahabat yang tiada bandingnya. Sebut saja inisialnya, LAS. Boleh dibilang, kami berdua adalah tandem tiada dua. Kalau saya jadi gas, dia akan jadi rem dan sebaliknya. Kami saling bertukar peran secara full otomatis, sehingga buat saya terkadang membaca raut wajahnya jauh lebih efektif ketimbang membaca laporan keuangan perusahaan yang kami pimpin.

Kami tidak memerlukan instruksi, struktur organisasi, atau semacamnya. Kami tidak perlu rapat2 yang menjemukan. Cukup lihat mata masing-masing dan kami tahu apa yang harus dilakukan. Derajat keintiman kami insya Allah tak tertandingi lah.

Dan ketika bibit2 perpecahan perusahaan mulai nampak, kami saling mengantisipasi perceraian yang tadinya kami kira akan berjalan sulit ini. Iya lah, bagi saya pribadi, kehilangan tandem sekaliber ini mungkin mirip dengan risiko kehilangan jari telunjuk. Atau kampas rem. Atau jangan2 pedal gasnya sekalian.

Saya tahu bahwa perceraian ini baginya adalah sesuatu hal yang amat berat dan emosional. Makanya saya setel sikap wajar, meski saya tahu bahwa dia menyadari bahwa hal ini bukanlah sesuatu hal yang mudah bagi saya. Demikianlah cara kami saling mendukung di masa-masa praperceraian yang teramat sulit.

Dan ketika masa perceraian itu tiba, kami tidak menangis. Menyesal pun tidak. Kami fahami bahwa proses ini adalah hal yang terbaik untuk pimpinan kami, karyawan kami, dan masa depan perusahaan kami. Ketakutan kami halau dengan kedewasaan tingkat tinggi bahwa keutuhan perusahaan jauh lebih penting dan genting daripada sekadar jabatan dan posisi kami di perusahaan. Dan betapa sulitnya bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ia memang harus pergi.

Sandaran yang kukuh itu sudah pergi. Dan kiranya saya harus bersandar lagi kepada sangkan-paran saya yang abadi, yaitu Allah SWT.

***
Saya masih belum tahu apa yang mengadang jalan kami masing2 ke depannya nanti. Namun saya masih percaya bahwa perceraian ini sementara adanya. Saya beri dia kesempatan untuk melakukan revolusi, sedang saya akan terus berkutat pada evolusi. Kami bukanlah manusia paripurna, namun ketika datang lagi masanya, duo tandem "Lassy" akan berjuang lagi bahu membahu menggapai ridha Ilahi. Insya Allah.
_____
Holy Sam,
Kuningan, 12.03.2012
May Allah always blessing you, bro..

Keine Kommentare: