Sonntag, August 21, 2011

Dunia atau Akhirat Dulu?

Istri: Yah, bisa nggak ya kita beli A (mobil mewah bikinan orang Jerman), tinggal di B (lokasi premium di Jakarta Selatan), jalan2 ke C (wah.. Jauh.. Ujung dunia, euy), atau nanti nyekolahin anak2 kita ke kampus kamu dulu?
Gw: insya Allah bebs, kalo Allah udah punya kehendak mah semua boleh kita raih.
Istri: Terus kapan?
Gw: sabar dulu ya sayang, masalah "cara" memang kita yang buat, tapi masalah "kapan" adalah hak Allah yang menentukannya.
Istri: iih, kamu mah ngomongnya gitu terus..
Gw: materi-duniawi boleh datang kepada keluarga kita kapan saja dan dengan cara apa aja bebs, tapi mudah2an kamu ndak ngejadiin itu semua sebagai tujuan hidup keluarga kita.
Istri: tapi kan namanya manusia pasti pengen hidup enak bebs..
Gw: hidup adalah mimpi sayang, dan tergantung selera kita lah apakah hidup itu akan menjadi mimpi baik atau mimpi buruk.
Istri: orang lain aja bisa..
Gw: oh ya jelas dong sayang, lha wong fitrahnya manusia kan berusaha.
Istri: makanya, kamu juga pasti bisa
Gw: amin, insya Allah. Yang paling wajib kita raih adalah ridha Allah, bebs. Lainnya adalah bonus. Asal Allah meridhai, semua pasti ketemu, pasti enak, pasti nikmat, dan pasti selamat dunia akhirat.

***
Jangankan istri Ibad, istri Nabi Muhammad saja pernah tergoda oleh kenikmatan duniawi sehingga keluar ultimatum: jika engkau menghendaki dunia dan perhiasannya, aku ceraikan engkau baik2. Demikian juga istri Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Azziz pun diultimatum dengan ancaman serupa. Tapi istri Ibad ndak kena ultimatum karena bisa gaswat urusannya, heheheh.

Kita hidup dalam zaman yang sama sekali berbeda, sehingga pendekatannya pun harus berbeda, bukan? Zaman dulu, cinta dunia boleh jadi dosa, namun di zaman susu formula dan mie instan sekarang ini, cinta dunia boleh jadi adalah pilihan yang paling rasional. Namun ketika seluruh waktu, ilmu, energi, dan materi di konversi hanya untuk menjadi uang, dan seluruh dunia melakukannya, tentu pada suatu titik akan terjadi krisis duniawi (baca: keuangan), bukan? Dan ketika krisis terjadi, kemanakah kita akan berpaling memohon pertolongan?

Coba lah tengok kondisi keuangan global terkini: Portugal gagal, Yunani hampir mati, Spanyol konyol, Irlandia merana, dan Uni Eropa siap2 ketiban bencana. Mestinya 14% pertumbuhan orang kaya, 3% pengurangan orang miskin, dan prediksi surplus APBN 2011 bisa bikin bangsa Indonesia tambah bersyukur dan berbahagia.

Ya, Allah telah menolong dan melapangkan ekonomi kita dengan cara yang luar biasa dan tak disangka2!

***
Zaman matrealistis-hedonis saat ini haruslah menempa ummat Islam menjadi ummat yang tangguh dan peduli. Ketika negara gagal, ummat tetap harus bangkit. Ketika negara bangkrut, ummat tak boleh ikut mengkerut. Dengan cara apa? Yaitu dengan meletakkan dunia di tangan kita dan meletakkan akhirat di hati dan pikiran kita.

Sulitkah? Insya Allah tidak. Saya percaya bahwa rezeki harus dijemput, namun saya menolak percaya bahwa rezeki harus diperjuangkan dengan segala cara. Rezekimu sudah termaktub di jari tanganmu. Ketika rezekimu dipatuk ayam, janganlah ayamnya kau sembelih, karena sudah kodrat para ayamlah untuk kebagian rezeki juga. Sesederhana itu kah? Iya. Lalu, betapa ruginya jika rezeki kita selalu dipatuk ayam?! Tergantung! Dunia ini begitu luas, saudaraku. Jadi jika rezekimu selalu dipatuk ayam, bersiaplah untuk menggarap lahan rizki yang baru!

***
Tadinya saya heran, haruskah saya menggapai dunia dulu atau akhirat dulu? Nabi Muhammad dan Abu Bakar merupakan pedagang yg luar biasa sukses sebelum memperjuangkan Islam. Umar bin Abdul Azziz adalah birokrat yg teramat sukses sebelum beliau diangkat menjadi khalifah. Demikian pula Raden Patah dan Pangeran Sambernyowo..

Tapi dengan iklim dunia yg seperti ini, saya kira waktu kita tidak akan cukup untuk sukses dunia dulu kemudian akhirat dulu. Dunia bisa jadi keburu runtuh dilanda huru-hara akhir zaman!

Lalu sepertinya saya harus banting setir untuk memperjuangkan akhirat terlebih dahulu. Dunia hanya akan saya tengok sesekali. Menjalankan amanah sekuat hati, hanya untuk menggapai ridha Ilahi, itulah ketetapan hati ini.

Ilahi anta maqshudiy, wa ridhaka mathlubiy.
______
Holy Sam,
Jatimulya, 01-21.08.2011, ba'da takjil ramadhan 1432H

Keine Kommentare: