Donnerstag, April 22, 2010

Antara Kartini, Bumi, dan Pertiwi


Photo courtesy of Wikipedia.org

Door Duisternis tot Licht.. Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikianlah kompilasi surat-surat yang dikirim oleh Ibu Kartini kepada sahabatnya di Belanda yang bernama Estell "Stella" Zeehandelaar. Terlepas dari pentasbihan tanggal 21 April sebagai "Hari Kartini" oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964 yang terbilang cukup kontroversial, secara umum saya suka kok sama ide-ide Kartini.

Sebetulnya bangsa Indonesia punya banyak stok wanita nusantara yang inspiratif, idealis, bersemangat, mengagumkan, dan entahlah, you-name-it. Sebut saja misalnya Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Martha Tiahahu, atau bahkan Sri Bhuana Tunggadewi, ratu Majapahit sekaligus ibunda dari raja legendaris Hayam Wuruk. Tapi kenapa Bung Karno menjadikan Hari Kartini dan bukannya Hari Cut Nyak Dien atau pahlawan wanita lainnya? Toh Ibu Kartini tidak terlalu signifikan peranannya di dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kan?!

Sorry for being a little bit synical.. :)


Mungkin yang terpenting daripada perjuangan emansipasi Ibu Kartini adalah inspirasinya bagi para wanita di zamannya. Beliau rela menjadi vegetarian (sejak usia 23 tahun!) sebagai bentuk keprihatinannya terhadap nasib putri pribumi. Sebagai seorang ningrat, tentu hal ini layak beliau lakukan. Altruisme Jawa kuno mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus mampu mengayomi rakyatnya. Dalam altruisme Jawa toh diajarkan, tonggak kepemimpinan alias sabda palon adalah wahyu utama dari Allah sehingga harus dipertanggungjawabkan langsung kepada Allah SWT.

Lewat tulisan-tulisannya, Kartini muda juga terhitung berani dalam menentang poligami. Saya tidak tahu dari mana beliau mendapatkan sudut pandang ini, namun satu hal yang menggelitik adalah poligami pada zaman itu merupakan hak adat eksklusif milik para ningrat. Ini agak mengherankan menilik latar belakang beliau sebagai ningrat. Padahal, poligami di kalangan ningrat akan lebih banyak mendatangkan ningrat-ningrat baru. Bayangkan, status seorang putri jelata bisa terdongkrak hanya dengan dinikahi oleh seorang ningrat, lho. Jika katakanlah Kartini muda mampu berfikir strategis, tentulah ia akan membimbing ratusan ningrat baru (yang nota bene adalah juniornya) untuk setidaknya mengurangi poligami, bukan?

***
Dalam sejarah bangsa manapun, perempuan/wanita/ibu selalu hadir dalam pelbagai bentuk. Kadang menjadi sosok penuh wibawa (mis. Athena), penuh kelembutan (mis. Srikandi), penuh kasih sayang (mis. Dewi Sri), bahkan penuh tipu daya dan kejahatan (mis. Medusa). Namun ada seorang Ibu lagi yang sudah sangat kelelahan menerima segala bentuk kezaliman manusia. Namanya adalah (I)Bu Mi alias mother earth.

Bumi adalah lambang kesabaran dan kepasrahan makhluk Tuhan. Dikeruk ia mau, ditanami ia diam, dihancurkan ia bertasyakur. Demikianlah Ibu Bumi yang usianya telah menginjak 4.8 bilyun tahun ini. Toh ia tak pernah mengeluh mesti harus disesaki oleh sekita 6.8 milyar manusia yang sibuk mengais rezeki di bumi. Dan lewat kesabaran2nya tersebut, ia lalu dinisbatkan sebagai makhluk Tuhan yang feminin. Mother Earth, Bhuvana, dan Bu Mi.

Betapa besar pengorbanan Bumi buat manusia, namun apa yang telah kita lakukan untuknya?

***
Di bagian Tenggara Ibu Bumi hidup seorang putrinya yang bernama Ibu Pertiwi. Ia saksi kemajuan peradaban sungai dan laut sekaligus. Kemajuan semua agama besar yang pernah ada sekaligus. Karenanya ia diperebutkan ke sana ke mari oleh bangsa2 berambut jagung Eropa dan bermata sipit dari Jepang. Ia lelah sekali, namun tak bisa berkata-kata. Lalu bayi revolusi kemerdekaan hadir. Tiran berganti tiran. Buaya berganti harimau. Orde demi orde, makin deras mengalir air matanya. Hari demi hari, makin bingung ia harus berbuat apa.

Sedang kita di sini sibuk mengelu-elu sesuatu yang tak bermutu dan memuja berhala-berhala tanpa makna. Kita kira gelap telah habis dan terang menjelang. Padahal kegelapan sejati sedang meraupi mata batin kita. Sedemikian gelapnya, hingga tak mampu kita membedakan mana itu gelap dan mana itu terang.

Selamat hari Kartini dan hari Bumi. Hanya tolong jangan campakkan lagi Ibu Pertiwi.

--------------------
Holy Sam,
Rasuna Said,
23.04.2010; 15.42 WIB

Keine Kommentare: